Sunday, 18 December 2016

Harapan

Sangat mudah untuk merasakan harapan di hari yang begitu indah ini
tetapi akan ada juga hari-hari gelap yang membuat kita akan gelisah.
Ada hari dimana kau merasa benar-benar sendirian.
Saat itu kau membutuhkan banyak harapan, Tak peduli dengan cara apapun
atau bagaimana saat kau merasa kehilangan harapan, kau harus berjanji akan tetap menjaga harapan.
Biarkan dia tetap hidup

Kita harus semakin kuat, saat menderita
Keinginanku akan menjadi harapan bagi kalian
Orang-orang membutuhkannya
Dan bahkan jika kita gagal, maka kita harus memperbaikinya.
Ketika kau melihat sekelilingmu dan melihat orang-orang akan membantumu menemukan siapa kau sebenarnya.

Aku tahu ini seperti ucapan perpisahan.
Tapi setiap bagianmu akan membawamu ke langkah selanjutnya..
untuk mengingatkan pada kita siapa kita sebenarnya, dan tak pernah melupakannya.
Yang kualami selama tiga tahun ini begitu indah.
Mungkin.. Aku akan sangat merindukan hal ini.

Saturday, 10 December 2016

Ya, Inilah Aku.

Keputusasaan menjadi manusia.
Kesedihan yang diabaikan.
Penyesalan menyakiti seseorang.
Keegoisan, Ketakutan, Kebencian.
Pengunduran diri, Kelicikan, dan keinginan memikirkan diri sendiri.

Ya, inilah Aku.
Meskipun tidak mau menerimanya, Tapi disinilah Aku menjalani masa depan.
Sama seperti cahaya di malam hari, dan kegelapan di siang hari, akan selalu ada kegelapan di dunia ini.
Pada saat yang sama pula, dunia tidak akan pernah ditelan kegelapan.

Tapi, meskipun begitu, takkan pernah kubiarkan emosi seperti ini meluap dari diri.

Karena emosi hanyalah penghenti..
Penghenti dari kesucian hati..
Dan selalu menjadi terkotori..
Dan, karena Aku takkan pernah kalah dari diri sendiri..

Sunday, 4 December 2016

Pengorbanan


Kita semua tahu, bahwa pengorbanan ialah memberikan apapun yang bisa diberikan untuk menyatakan kesetiaan. Berasal dari kata korban.
Namun, pengorbanan yang hakiki tidak hanya seperti itu.
Pengorbanan yang sebenarnya tidak hanya bicara tentang memberikan apapun atau merelakan apapun untuk menunjukkan kesetian, tetapi pengorbanan hakiki juga membutuhkan hati yang tulus, ikhlas, dan tanpa memikirkan apa yang telah dikorbankan. Semata-mata segala pengorbanan hanya untuk kesetiaan, pengabdian, dan bahkan untuk kecintaan. Tak bisa dikatakan pengorbanan yang hakiki, jika masih ada rasa kehilangan, rasa tak yakin, ataupun rasa ingin dilihat. Jika masih ada rasa seperti ini, ini bukanlah pengorbanan, mungkin ini hanyalah keinginan seseorang agar bisa dikenal semua orang. 

Sunday, 27 November 2016

Pandangan Hidup

Setiap manusia pasti memiliki pandangan hidup, karena pandangan hidup menentukan masa depan seseorang.
Pandangan hidup merupakan petunjuk atau pedoman dalam menjalani hidup di dunia, jikalau rusak pandangan hidupnya, rusak lah pula masa depannya.
Karena itu pandangan hidup seseorang takkan bisa diraih dengan mudah, karena butuh waktu yang tak singkat dan terus menerus hingga bisa mencapai tingkat realisasi dalam kehidupan manusia itu sendiri dan dapat dibuktikan kebenarannya sehingga tak menjadi penyesalan dalam hidupnya.

Sunday, 20 November 2016

Nama Baik


Pada hakikatnya nama baik ditentukan oleh sikap manusia dalam mengikuti sebuah norma. Nama baik ialah sebuah "cap" dalam setiap diri manusia.
Jika kita bersikap sesuai dengan norma, maka kita akan dicap baik.
Dan begitu sebaliknya, jika bersikap tak sesuai norma atau bahkan melanggar norma yang berlaku, maka akan mendapatkan cap buruk.
Maka bersikaplah sewajarnya, sesuai keadaan, agar tidak mendapatkan cap buruk. 

Sunday, 13 November 2016

Keadilan

Apa yang kau sebut adil? Apakah dengan mendapatkan hal yang serupa?
Apakah dengan mendapatkan jumlah yang sama?
Apakah dengan mendapatkan perlakuan yang sama?
Sekali-kali tidak seperti itu.
Apakah seorang kaka yang berukuran sepatu besar dengan seorang adik yang berukuran kaki kecil harus mendapatkan ukuran yang sama? Adilkah itu?
Apakah seorang yang tak memiliki tangan dengan seorang yang memiliki tangan, jika diberikan gelang, keduanya diberikan gelang, adilkah itu?
Apakah seorang bayi dengan seorang anak kecil bila diberikan makan, harus dengan makanan yang sama? Adilkah?

Sungguh, Adil bukanlah perkara tentang "SAMA" namun tentang "SESUAI".



Saturday, 5 November 2016

Inginku

Ingin rasanya melepaskan semua..
Namun apa mau di kata, Hidup ini harus tetap berjalan dengan segala keadaan..
Namun, apa dengan kenyataan hidup yang begitu pahit ini, Aku bisa bertahan? Tanpa mengakhiri kehidupanku?
Kenyataan ini begitu pahit.. Menusuk-nusuk sukma ku, hingga Aku-pun merasa tak kuat lagi bertahan.

Tak ada siapapun di kehidupanku untuk menuangkan segala perasaan ku..
Teman? Dia hanya membuat jiwa-ku makin menghilang.
Kekasih? Dia hanya membuat jiwa-ku makin resah.
Keluarga? Aku tak ingin membuat mereka khawatir.

Tuhan.. Kepada siapa lagi agar aku dapat bertahan di kehidupan ini?
Kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?..
Kepada Engkau kah Tuhan? Tapi, Aku ini hanya manusia biadab..
Setiap hari kehidupanku hanya terus berdosa, dan terus berdosa..

Apa Engkau mau mendengarku?..
Tuhan saja belum tentu mendengarku, apalagi manusia?
Lalu kepada siapa lagi aku harus berkata?
Mungkin memang benar, Aku harus mengakhiri kehidupanku.


Sejenak ku berpikir dengan hati tulus dan tenang, akan sebuah pikiran sesaat.
Ku dapatkan sesuatu setelah melihat sekeliling, masa lalu-ku dan masa-masa yang telah ku lalui..
Kutemukan sebuah hal penting.
Tak ada kepastian diri dalam kenyataan hidup.
Yang ada hanya kenyataan belaka, yang mungkin bisa berubah setiap saat..

Kenyataan itu memang terkadang pahit ataupun manis, namun itu hanya sebuah kenyataan belaka.
Aku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang berubah menjadi pahit.
Kembali ku berpikir, kenyataan hanyalah kenyataan, bukan sebuah takdir, tak mungkin bertahan lama.
Siapapun dapat melihat kenyataan hidup-ku, Aku ataupun mereka dapat melihatnya.

Tapi, akankah ada yang dapat melihat takdir-ku kelak? Masa-masa yang belum kulewati?
Kembali lagi ku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang pahit, mungkin saja bisa manis kembali

Inginku

Ingin rasanya melepaskan semua..
Namun apa mau di kata, Hidup ini harus tetap berjalan dengan segala keadaan..
Namun, apa dengan kenyataan hidup yang begitu pahit ini, Aku bisa bertahan? Tanpa mengakhiri kehidupanku?
Kenyataan ini begitu pahit.. Menusuk-nusuk sukma ku, hingga Aku-pun merasa tak kuat lagi bertahan.

Tak ada siapapun di kehidupanku untuk menuangkan segala perasaan ku..
Teman? Dia hanya membuat jiwa-ku makin menghilang.
Kekasih? Dia hanya membuat jiwa-ku makin resah.
Keluarga? Aku tak ingin membuat mereka khawatir.

Tuhan.. Kepada siapa lagi agar aku dapat bertahan di kehidupan ini?
Kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?..
Kepada Engkau kah Tuhan? Tapi, Aku ini hanya manusia biadab..
Setiap hari kehidupanku hanya terus berdosa, dan terus berdosa..

Apa Engkau mau mendengarku?..
Tuhan saja belum tentu mendengarku, apalagi manusia?
Lalu kepada siapa lagi aku harus berkata?
Mungkin memang benar, Aku harus mengakhiri kehidupanku.


Sejenak ku berpikir dengan hati tulus dan tenang, akan sebuah pikiran sesaat.
Ku dapatkan sesuatu setelah melihat sekeliling, masa lalu-ku dan masa-masa yang telah ku lalui..
Kutemukan sebuah hal penting.
Tak ada kepastian diri dalam kenyataan hidup.
Yang ada hanya kenyataan belaka, yang mungkin bisa berubah setiap saat..

Kenyataan itu memang terkadang pahit ataupun manis, namun itu hanya sebuah kenyataan belaka.
Aku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang berubah menjadi pahit.
Kembali ku berpikir, kenyataan hanyalah kenyataan, bukan sebuah takdir, tak mungkin bertahan lama.
Siapapun dapat melihat kenyataan hidup-ku, Aku ataupun mereka dapat melihatnya.

Tapi, akankah ada yang dapat melihat takdir-ku kelak? Masa-masa yang belum kulewati?
Kembali lagi ku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang pahit, mungkin saja bisa manis kembali

Saturday, 29 October 2016

Suratan Takdir

Suratan takdir telah dilayangkan.
Membuatku semakin terpuruk dan bisa saja terjatuh.
Ini bukan salahku ataupun mereka.
Ini hanyalah takdir.

Aku tetaplah Aku, walaupun ku mencoba menjadi siapapun berulang kali.
Tak ada yang menerimanya, maka kegelapan itu pasti kan datang.
Kegelapan yang selalu setia menemani.

Namun, Aku merasa tak bahagia ketika kegelapan itu menemani.
Begitu suram dan sepi. Membuat Cahaya-ku semakin pudar dan perlahan menghilang.

Aku tak kuasa menahan Suratan Takdir ini.
Namun takdirku akan kembali ku tulis, dengan Pena Harapan.
Dengan tulisan itu, kuharap harapan akan takdirku bisa terkabulkan.

Saturday, 22 October 2016

Wanita Cantik Itu...

Cantik, sebutan kehormatan bagi wanita dan pujian yang membuktikan bahwa keberadaan mereka diakui. Cantik adalah nilai lebih yang membuat seorang wanita lebih berharga. Cantik bukanlah semata hadiah dari Allah. Kecantikan itu bisa kita wujudkan, bisa kita munculkan. Namun semua itu pasti tidak mudah. Butuh usaha keras, kekuatan niat dan kesungguhan hati.

Wanita itu cantik jika berilmu.
Dia tidak hanya menonjolkan emosi dalam berdebat, melainkan kedalaman ilmu yang memikat.
Dia tidak hanya pandai dalam berteori namun bisa mempraktekannya secara rinci.
Dia menerangi dirinya dan sekitarnya dengan ilmu yang dimiliki, namun tidak pernah pelit untuk berbagi.
Dengan ilmu itu, mereka tunduk kepada Allah.
Karena pengetahuan itulah, mereka memilih menjadi hamba yang bertakwa.
Tidak hanya sekedar ikut, namun selalu mengkaji ilmu Allah dengan lebih runut.
Tindakannya berdasarkan ilmu, bukan pendapatnya pribadi, apalagi hanya sekedar emosi diri.
Ilmu itu membuat hatinya tunduk, nafsunya lebur, dan perilakunya teratur.

Wanita itu cantik jika memiliki rasa malu.
Malu mempertontonkan dirinya dengan sebegitu murah, dan malu jika tidak bisa menjadi hamba yang patuh dan amanah kepada tuhannya.
Mereka yang malu akan senantiasa menjaga diri dari dosa.
Lihatlah betapa kemudian mereka menjadi sangat berharga.
Siapapun yang akan mendekat kepadanya, akan merasa sungkan dan merasa haus menyiapkan sebuah kehati- hatian.
Rasa malu itu yang akhirnya mengangkat derajatnya sendiri, dengan lebih tinggi tentunya.

Wanita itu cantik jika mereka cerdas.
Cerdas untuk tidak berbuat bodoh dalam merendahkan kehormatan mereka sendiri.
Cerdas untuk menata kata, dan menempatkan diri dalam berbagai situasi.
Semua makhluk pastilah tahu,
bahwa wanita adalah tentang perasaannya,
namun wanita cantik nan cerdas itu sangat mengerti kapan harus menggunakan logikanya.
Maka akan dijauhinya keluhan, tuntutan dan kerewelan yang akan membuat segala urusan terasa semakin sulit.

Lihatlah betapa kecerdasannya dalam menata akhlak.
Tidak ada hasut dan fitnah dilidahnya.
Tidak ada buruk sangka dihatinya.
Dia pandai memerdekan batinnya dengan kebaikan.
Dia pandai menutupi kekurangan dengan kelebihan.
Dia bersosialisasi namun tetap dalam batas.
Dia bergaul namun tidak lebur, dia menuntun sesamanya untuk selalu menuju kebaikan.
Kehadirannya adalah kebahagiaan bagi teman teman di sekitarnya.

Lihatlah cara cerdas mereka dalam mengendalikan diri.
Walaupun akalnya sering kali dikendalikan oleh emosi,
namun kuatnya iman menuntunnya untuk menjadi lebih indah.
Dia tidak minder untuk tampil beda.
Beda dengan wanita kafir yang bertindak diluar batas dan tidak tahu kapan mereka harus berhenti.
Allah SWT sudah cukup menjadi alarm bagi dirinya.
Dan dengan Maha Melihat-Nya, sudah bisa untuknya merasa selalu diawasi.

Wanita cantik itu...
Mereka tahu mereka bukanlah bidadari yang sempurna,
namun kekurangannya dia tutup dengan menonjolkan kelebihan,
dan beristigfar terhadap kekurangan.
Mereka pun tahu betapa susahnya untuk menjadi cantik,
namun itu tak menghalangi mereka untuk selalu memperbaiki diri.
Maka ketahuilah saudariku..

Kecantikan adalah definisi dari wanita sholihah.
Walaupun mereka kurang dalam fisiknya,
namun akan lebih dari segi iman dan akhlaknya.
Tidak ada di dunia ini yang lebih cantik selain dari wanita yang sholihah.
Carilah, buktikan namun tidak akan kita temui selain kecantikan itu hanya ada dalam diri mereka yang shalihah. Persis seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW,
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).

Kecantikan tak hanya sebatas fisik, dan bagusnya kulit ari.
Namun kecantikan itu adalah seberapa dekat dengan Allah SWT,
dan seberapa nyaman manusia berada di dekatmu.
Maka benarlah jika sebaik-baik wanita, adalah mereka yang shalihah.

Thursday, 13 October 2016

Cinta Itu Seperti Hujan

"Cinta itu seperti hujan, apabila jatuh ketanah yang tandus maka lahirlah kedurjanaan, namun apabila jatuh ketanah yang subur maka lahirlah kemuliaan."
Nah maksudnya dari tanah yang tandus itu seperti melabuhkan cinta pada kegiatan pacaran yang pada hakikatnya awal dari perzinahan. Udah gak sabar pengen nikah tapi banyak kendala, yah intropeksi diri aja mungkin Allah belum mengizinkan karna masih banyak kesalahan yang kita buat. Cinta kepada orang tua, keluarga, serta Sahabat karna Allah ini baru yang dinamakan uhibbuka fillah. uhibbuka fillah juga Sering disalahgunakan oleh kaum alay yang berjubah aktifis.. Gak heran karna mereka seperti itu sebab syahwat yang dicarinya. Contohnya: "Aku mencintai-mu karna Allah, makanya kita pacaran." *Pfftt.. Emangnya lu kira Allah memerintahkan pacaran? yang merintahin pacaran mah syetan.* Seharusnya yang dikatakan itu "Aku mencintai-mu karna Syetan dan Syahwat, makanya kita pacaran." Nah, ini baru bener.. wkwk.. Karena mereka kaum alay berjubah aktifis Hanya mampu mengungkap kata uhibbuka fillah tapi tidak sampai kedasar hati. Arrgh.. sudahlah semoga kita semua dibukakan hatinya agar dapat menerima nur illahi.. Aamiin..
Bila yang saya sampaikan membuat hati kalian sakit, coba periksa lagi hatinya, barangkali memang berpenyakit :D hehe

Saturday, 8 October 2016

CAKRAWALA

Di suatu masa, Ketika Aku sendirian, Aku bermimpi di suatu Cakrawala.
Dalam sebuah ruangan, di mana Matahari tak dapat menyampaikan sinarnya.
Pada sebuah jendela, menampilkan segala perasaan yang ada.
Tertutup dalam diri, Sebuah Cahaya yang jauh di dalam dada.
Mungkin, inilah waktunya kita berpisah.
Kita akan berpisah terbawa ombak arus kehidupan.
Melewati Cakrawala lain yang dinamakan perpisahan.
Sampai saat itu datang, mempertemukan Hadirmu Dalam Senyuman.

Saturday, 1 October 2016

Manusia

Manusia, sebuah karya Sang Pencipta yang paling sempurna, dilahirkan dalam bentuk sebaik-baiknya.
Tercipta dari setetes zat yang hina, namun terlahir dalam keadaan suci, bersih, polos dan tak berdosa.
 
Manusia diberikan kemampuan kebebasan untuk berpikir, dengan pikiran yang tanpa batas. Pikiran itulah yang menciptakan keanekaragaman dalam kehidupan. Pikiran itu pula lah yang mengubah hakikat diri sesungguhnya dari manusia. Cobalah lihat sekeliling, manusia yang tercipta dalam keadaan suci, kini tak lagi sama, telah ternodai dengan pikiran-pikiran kotor manusia. Bahkan dalam beberapa keadaan, manusia yang begitu kotor oleh “noda-noda” pikiran, bisa disebut dengan “sampah”. Ya, Sampah Masyarakat. 

Apakah ini salah Sang Pencipta? 
Apakah ini salah Kebebasan?
Apakah ini salah Pemikiran?
Atau, Apakah ini salah Manusia? 

Jikalau memang benarlah salah Sang Pencipta, bukankah Dia hanya menciptakan Pemikiran?
Jikalau memang benarlah salah Kebebasan, bukankah Kebebasan tak memintamu untuk menjadi kotor?
Jikalau memang benarlah salah Pemikiran, bukankah Pemikiran hanyalah sebuah sistem yang manusia gunakan?
Lalu, apa benarkah salah manusia? 
Hanya hati nurani yang bisa menjawab.

Yang pasti hakikat setiap manusia ialah Suci, Bersih dan Tanpa Noda.

Tuesday, 9 February 2016

Aku ini, Hanyalah Manusia Lemah.

Inilah Aku.
Ya, lemah, penyakitan dan tak berdaya.
Bahkan bisa dibilang tubuh ini sudah tak berguna.
Layaknya sebuah boneka kosong, yang hanya menunggu untuk dimusnahkan.

Tapi, bersyukurlah Aku..
Allah memberikan-ku jiwa ini, menuangkan api yang membara, api semangat kedalam wadah kosong ini.
Membuat terbakar-lah tubuh ini, membuat tubuh ini bergerak, membuat tubuh ini ingin bergerak ke seluruh dunia.
Ya, seandainya tubuh ini runtuh, tubuh ini rapuh, selama semangat jiwa-ku masih berjaya,
Hanya Allah yang bisa menghentikanku.

Aku ini, Hanyalah Manusia Lemah.

Harga Naik?

"Just be Happy people, Focus on what you have and say Hamdalah."
Maka, berusalah untuk "mendapatkan", bukan "mengeluh".

BBM naik lagi?
Ya gak apa lah, wong udah jadi kebutuhan primer, walau mau naik berapa juga pasti masih pada beli.. :|
Harga sembako ikut naik juga?
Ya gak apa lah, wong udah jadi kebutuhan primer, walau mau naik berapa juga pasti masih pada beli.. :|
*Kalo pulsa boleh naik harga juga gak ya? Kan BBM naik, semua harga naik *

Situ mau koar-koar gimana juga, pasti tetep bakalan beli itu barang.
Situ mau demo kaya gimana juga, pasti tetep bakalan beli itu barang.
Situ mau mogok kaya gimana juga, pasti tetep bakalan beli itu barang.

Kenapa gak coba cara lain? Cara yang dengan tidak membeli barang itu.
Berhenti membeli kebutuhan yang tidak primer.
Hentikan menjadi boros.
Berhentilah merokok, karena itulah yang paling MERUGIKAN ANDA.
Naik sepeda, jalan kaki, cari SDA lain, kalau bisa buat SDA sendiri.

"Karena sesungguhnya dunia ini memang sudah disiapkan segalanya oleh Allah, hanya bagaimana cara kita mencari, mengolah, dan menggunakannya dengan sebaik dan sebenar-benarnya."

"Dunia tidak pernah kurang memberikan keindahannya, pribadi yang merasa dunia itu tidak selalu indah adalah yang terlena dibutakan karena hanya mengejar keindahan dunia bukan mensyukuri indahnya dunia. -Yogas Ogest Swara-."

Bukan Sebuah Karangan

Another Self Come.

Killing another self to get myself. Ready for it? I think not.
Mereka memang benar sangat menggangu, sangat. Tentang kehidupan, tentang bersosial, tentang berkomunikasi, bahkan tentang rasa.
Namun.. Daripada harus ditinggalkan, dihancurkan, atau dihilangkan dan dilenyapkan, mungkin lebih baik terganggu. Atau mungkin diolah menjadi terkendali.
Padahal walau sangat mengganggu, mereka memberikan manfaat yang berguna. Hampir di setiap keadaan baru yang datang, hampir setiap saat itu pula muncul kehidupan baru. Walaupun agak merepotkan, itu sedikit menyenangkan.

Semua selalu berkata "ANEH!", "LEBAY!", "TAK JELAS HIDUP-MU!", "MENJIJIKAN!", "MENAKUTKAN!", "HINA!".
Tapi, apalah daya-ku yang belum mengerti apa yang terjadi.
Sebuah hal lucu ketika mereka melontarkan kata seperti itu, Aku sama sekali tak merasa "sakit" dalam hati dan benar-benar tak peduli. Mungkin ini salah satu sisi baiknya. Ha ha..

Tetapi, perlahan ketika Aku mulai berani terjun ke dunia sosial, Aku mulai merasa ada rasa iri. Aku mulai merasa ingin menjadi seperti yang lain, tanpa ada perkataan yang dijatuhkan padaku.
Perlahan, Aku pun mulai mencoba belajar menjadi seperti mereka. Namun, ternyata jauh lebih menyakitkan. Dan akhirnya, kuputuskan untuk kembali ke kehidupanku.

Semua terjadi begitu saja, seakan-akan ini menjadi takdir untukku.
Takdir yang mungkin bisa dibilang layaknya sebuah kisah sinetron ataupun drama-drama karangan. Tapi, benarlah ini semua terjadi di kehidupanku bukan hanya di televisi, tapi dalam kehidupan. Ya.. Benar-benar dalam kehidupan.
Terkadang, Aku merasa sudah tidak nyaman dan tidak layak untuk tetap hidup dan merasa sudah waktunya untuk mengakhiri hidup. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja selalu rasa itu hilang ketika sudah diujung tanduk. Seakan-akan Sang Pencipta tak menginginkan hal itu.

Bertahun-tahun telah kulewati dengan kondisi seperti ini.
Bertahun-tahun kulewati dengan caci-makian orang.
Bertahun-tahun pula merasa tak jelas dengan hidupku ini.
Bertahun-tahun pula Aku sudah nyaris mengakhiri kehidupan.

Sewaktu-waktu Aku pernah berpikir,
"Bagaimana bila Aku mempunyai orang yang bisa kujadikan tempatku tenang?"
"Bagaimana bila Aku mempunyai orang yang bisa menghentikanku melakukan 'keanehan'?"
"Bagaimana bila Aku mempunyai orang yang bisa menjadi tempatku bercerita?"
"Bagaimana bila Aku mempunyai teman? Sahabat? Atau bahkan cinta?"

Aku pun mencoba mewujudkan pemikiranku tersebut dan mulai kembali terjun ke kehidupan sosial. Awalnya cukup sulit untuk berkomunikasi, namun Aku selalu berusaha sekuat mungkin untuk bisa seperti mereka atau mungkin hanya sekedar seperti bayangan mereka. Dan akhirnya Aku berhasil menemukan cara untuk bisa berada dengan mereka, bahkan tak hanya menjadi bayangan. Orang-orang menyebutnya "Rekayasa Sosial". Mungkin hanya hal itu yang bisa kulakukan agar bisa diterima oleh mereka. Pada akhirnya Aku mulai menjalani hidup dengan mereka, manusia yang menyebut diri merka "normal".
Kemudian, Aku pun berhasil mendapatkan teman, bahkan sahabat. Tapi tidak dengan cinta, karena Aku belum mengetahui orientasi apa Aku ini atau mungkin bisa dibilang Aku belum bisa menemukan ketertarikanku. Ha ha..

Awalnya, Aku merasa senang ketika Aku mendapatkan teman. Tapi kesenangan itu tak berlangsung lama.
Karena diriku tak bisa menerima apa yang mereka lakukan.
Karena diriku tak bisa menahan diri.
Karena diriku tak kuasa menahan siapa Aku sebenarnya.
Dan akhirnya, Aku pun melakukan hal yang yang seharusnya tak dilakukan. Aku menggunakan tubuh mereka dan nyaris menghilangkan kehidupannya.
Arghh.. Betapa kesalnya Aku. Perlahan perasaan lamaku kembali setelah sekian lama hilang dan nyaris menghabisi hidupku, namun hal yang sama terulang. Perasaan itu menghilang begitu saja. Aku bertanya-tanya, "Apa sebenarnya yang Sang Pencipta inginkan?".

Hari pun berlalu dengan kehidupan ku yang kembali dianggap "Hina".
Suatu hari, mereka yang sekarang kusebut sahabat datang menemuiku setelah mereka tahu siapa Aku.
Mereka berlaku seperti biasa, seakan-akan mereka sama sekali tak takut dengan diriku. Kemudian muncul dibenakku dan langsung ku katakan, "Aneh". Padahal itu hal yang biasa dilontarkan terhadapku, namun sekarang Aku yang mengatakannya. Ha ha
Aku pun mulai berlalu dengan mereka yang kusebut sahabat dan mereka yang menyebutku sahabat.
Sama seperti yang kulalui bersama temanku dulu, awalnya Aku merasa senang, tapi tak bertahan lama ketika Aku kembali tak bisa mengendalikan diri.
Aku pun nyaris melakukan hal yang sama, tapi hal "aneh" itu pun terjadi. Mereka yang kusebut sahabat, seakan-akan bisa mengendalikanku dan kemudian bisa menangkanku begitu saja.
Aku pun mulai berpikir, "Apakah ini yang Sang Pencipta inginkan? Apakah mereka perantara yang bisa menghilangkan diriku yang lain?".

Akhirnya kehidupanku menjadi seperti baru. Walaupun sampai sekarang pun Aku masih seperti dulu, tetapi karena Aku mempunyai mereka, semua terasa berbeda.
Dengan Sahabat Aku bisa menjadi seperti ini. Apakah dengan Cinta Aku bisa menjadi lebih baik? Entahlah..
Aku hanya akan melanjutkan kehidupan yang diinginkan Sang Pencipta.

Tapi..
Aku tak tahu akan sampai berapa lama..

ShareBar by Tutorial Blogspot

Translate