Tuesday, 9 February 2016

Aku ini, Hanyalah Manusia Lemah.

Inilah Aku.
Ya, lemah, penyakitan dan tak berdaya.
Bahkan bisa dibilang tubuh ini sudah tak berguna.
Layaknya sebuah boneka kosong, yang hanya menunggu untuk dimusnahkan.

Tapi, bersyukurlah Aku..
Allah memberikan-ku jiwa ini, menuangkan api yang membara, api semangat kedalam wadah kosong ini.
Membuat terbakar-lah tubuh ini, membuat tubuh ini bergerak, membuat tubuh ini ingin bergerak ke seluruh dunia.
Ya, seandainya tubuh ini runtuh, tubuh ini rapuh, selama semangat jiwa-ku masih berjaya,
Hanya Allah yang bisa menghentikanku.

Aku ini, Hanyalah Manusia Lemah.

Harga Naik?

"Just be Happy people, Focus on what you have and say Hamdalah."
Maka, berusalah untuk "mendapatkan", bukan "mengeluh".

BBM naik lagi?
Ya gak apa lah, wong udah jadi kebutuhan primer, walau mau naik berapa juga pasti masih pada beli.. :|
Harga sembako ikut naik juga?
Ya gak apa lah, wong udah jadi kebutuhan primer, walau mau naik berapa juga pasti masih pada beli.. :|
*Kalo pulsa boleh naik harga juga gak ya? Kan BBM naik, semua harga naik *

Situ mau koar-koar gimana juga, pasti tetep bakalan beli itu barang.
Situ mau demo kaya gimana juga, pasti tetep bakalan beli itu barang.
Situ mau mogok kaya gimana juga, pasti tetep bakalan beli itu barang.

Kenapa gak coba cara lain? Cara yang dengan tidak membeli barang itu.
Berhenti membeli kebutuhan yang tidak primer.
Hentikan menjadi boros.
Berhentilah merokok, karena itulah yang paling MERUGIKAN ANDA.
Naik sepeda, jalan kaki, cari SDA lain, kalau bisa buat SDA sendiri.

"Karena sesungguhnya dunia ini memang sudah disiapkan segalanya oleh Allah, hanya bagaimana cara kita mencari, mengolah, dan menggunakannya dengan sebaik dan sebenar-benarnya."

"Dunia tidak pernah kurang memberikan keindahannya, pribadi yang merasa dunia itu tidak selalu indah adalah yang terlena dibutakan karena hanya mengejar keindahan dunia bukan mensyukuri indahnya dunia. -Yogas Ogest Swara-."

Bukan Sebuah Karangan

Another Self Come.

Killing another self to get myself. Ready for it? I think not.
Mereka memang benar sangat menggangu, sangat. Tentang kehidupan, tentang bersosial, tentang berkomunikasi, bahkan tentang rasa.
Namun.. Daripada harus ditinggalkan, dihancurkan, atau dihilangkan dan dilenyapkan, mungkin lebih baik terganggu. Atau mungkin diolah menjadi terkendali.
Padahal walau sangat mengganggu, mereka memberikan manfaat yang berguna. Hampir di setiap keadaan baru yang datang, hampir setiap saat itu pula muncul kehidupan baru. Walaupun agak merepotkan, itu sedikit menyenangkan.

Semua selalu berkata "ANEH!", "LEBAY!", "TAK JELAS HIDUP-MU!", "MENJIJIKAN!", "MENAKUTKAN!", "HINA!".
Tapi, apalah daya-ku yang belum mengerti apa yang terjadi.
Sebuah hal lucu ketika mereka melontarkan kata seperti itu, Aku sama sekali tak merasa "sakit" dalam hati dan benar-benar tak peduli. Mungkin ini salah satu sisi baiknya. Ha ha..

Tetapi, perlahan ketika Aku mulai berani terjun ke dunia sosial, Aku mulai merasa ada rasa iri. Aku mulai merasa ingin menjadi seperti yang lain, tanpa ada perkataan yang dijatuhkan padaku.
Perlahan, Aku pun mulai mencoba belajar menjadi seperti mereka. Namun, ternyata jauh lebih menyakitkan. Dan akhirnya, kuputuskan untuk kembali ke kehidupanku.

Semua terjadi begitu saja, seakan-akan ini menjadi takdir untukku.
Takdir yang mungkin bisa dibilang layaknya sebuah kisah sinetron ataupun drama-drama karangan. Tapi, benarlah ini semua terjadi di kehidupanku bukan hanya di televisi, tapi dalam kehidupan. Ya.. Benar-benar dalam kehidupan.
Terkadang, Aku merasa sudah tidak nyaman dan tidak layak untuk tetap hidup dan merasa sudah waktunya untuk mengakhiri hidup. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja selalu rasa itu hilang ketika sudah diujung tanduk. Seakan-akan Sang Pencipta tak menginginkan hal itu.

Bertahun-tahun telah kulewati dengan kondisi seperti ini.
Bertahun-tahun kulewati dengan caci-makian orang.
Bertahun-tahun pula merasa tak jelas dengan hidupku ini.
Bertahun-tahun pula Aku sudah nyaris mengakhiri kehidupan.

Sewaktu-waktu Aku pernah berpikir,
"Bagaimana bila Aku mempunyai orang yang bisa kujadikan tempatku tenang?"
"Bagaimana bila Aku mempunyai orang yang bisa menghentikanku melakukan 'keanehan'?"
"Bagaimana bila Aku mempunyai orang yang bisa menjadi tempatku bercerita?"
"Bagaimana bila Aku mempunyai teman? Sahabat? Atau bahkan cinta?"

Aku pun mencoba mewujudkan pemikiranku tersebut dan mulai kembali terjun ke kehidupan sosial. Awalnya cukup sulit untuk berkomunikasi, namun Aku selalu berusaha sekuat mungkin untuk bisa seperti mereka atau mungkin hanya sekedar seperti bayangan mereka. Dan akhirnya Aku berhasil menemukan cara untuk bisa berada dengan mereka, bahkan tak hanya menjadi bayangan. Orang-orang menyebutnya "Rekayasa Sosial". Mungkin hanya hal itu yang bisa kulakukan agar bisa diterima oleh mereka. Pada akhirnya Aku mulai menjalani hidup dengan mereka, manusia yang menyebut diri merka "normal".
Kemudian, Aku pun berhasil mendapatkan teman, bahkan sahabat. Tapi tidak dengan cinta, karena Aku belum mengetahui orientasi apa Aku ini atau mungkin bisa dibilang Aku belum bisa menemukan ketertarikanku. Ha ha..

Awalnya, Aku merasa senang ketika Aku mendapatkan teman. Tapi kesenangan itu tak berlangsung lama.
Karena diriku tak bisa menerima apa yang mereka lakukan.
Karena diriku tak bisa menahan diri.
Karena diriku tak kuasa menahan siapa Aku sebenarnya.
Dan akhirnya, Aku pun melakukan hal yang yang seharusnya tak dilakukan. Aku menggunakan tubuh mereka dan nyaris menghilangkan kehidupannya.
Arghh.. Betapa kesalnya Aku. Perlahan perasaan lamaku kembali setelah sekian lama hilang dan nyaris menghabisi hidupku, namun hal yang sama terulang. Perasaan itu menghilang begitu saja. Aku bertanya-tanya, "Apa sebenarnya yang Sang Pencipta inginkan?".

Hari pun berlalu dengan kehidupan ku yang kembali dianggap "Hina".
Suatu hari, mereka yang sekarang kusebut sahabat datang menemuiku setelah mereka tahu siapa Aku.
Mereka berlaku seperti biasa, seakan-akan mereka sama sekali tak takut dengan diriku. Kemudian muncul dibenakku dan langsung ku katakan, "Aneh". Padahal itu hal yang biasa dilontarkan terhadapku, namun sekarang Aku yang mengatakannya. Ha ha
Aku pun mulai berlalu dengan mereka yang kusebut sahabat dan mereka yang menyebutku sahabat.
Sama seperti yang kulalui bersama temanku dulu, awalnya Aku merasa senang, tapi tak bertahan lama ketika Aku kembali tak bisa mengendalikan diri.
Aku pun nyaris melakukan hal yang sama, tapi hal "aneh" itu pun terjadi. Mereka yang kusebut sahabat, seakan-akan bisa mengendalikanku dan kemudian bisa menangkanku begitu saja.
Aku pun mulai berpikir, "Apakah ini yang Sang Pencipta inginkan? Apakah mereka perantara yang bisa menghilangkan diriku yang lain?".

Akhirnya kehidupanku menjadi seperti baru. Walaupun sampai sekarang pun Aku masih seperti dulu, tetapi karena Aku mempunyai mereka, semua terasa berbeda.
Dengan Sahabat Aku bisa menjadi seperti ini. Apakah dengan Cinta Aku bisa menjadi lebih baik? Entahlah..
Aku hanya akan melanjutkan kehidupan yang diinginkan Sang Pencipta.

Tapi..
Aku tak tahu akan sampai berapa lama..

ShareBar by Tutorial Blogspot

Translate