Sunday, 27 November 2016

Pandangan Hidup

Setiap manusia pasti memiliki pandangan hidup, karena pandangan hidup menentukan masa depan seseorang.
Pandangan hidup merupakan petunjuk atau pedoman dalam menjalani hidup di dunia, jikalau rusak pandangan hidupnya, rusak lah pula masa depannya.
Karena itu pandangan hidup seseorang takkan bisa diraih dengan mudah, karena butuh waktu yang tak singkat dan terus menerus hingga bisa mencapai tingkat realisasi dalam kehidupan manusia itu sendiri dan dapat dibuktikan kebenarannya sehingga tak menjadi penyesalan dalam hidupnya.

Sunday, 20 November 2016

Nama Baik


Pada hakikatnya nama baik ditentukan oleh sikap manusia dalam mengikuti sebuah norma. Nama baik ialah sebuah "cap" dalam setiap diri manusia.
Jika kita bersikap sesuai dengan norma, maka kita akan dicap baik.
Dan begitu sebaliknya, jika bersikap tak sesuai norma atau bahkan melanggar norma yang berlaku, maka akan mendapatkan cap buruk.
Maka bersikaplah sewajarnya, sesuai keadaan, agar tidak mendapatkan cap buruk. 

Sunday, 13 November 2016

Keadilan

Apa yang kau sebut adil? Apakah dengan mendapatkan hal yang serupa?
Apakah dengan mendapatkan jumlah yang sama?
Apakah dengan mendapatkan perlakuan yang sama?
Sekali-kali tidak seperti itu.
Apakah seorang kaka yang berukuran sepatu besar dengan seorang adik yang berukuran kaki kecil harus mendapatkan ukuran yang sama? Adilkah itu?
Apakah seorang yang tak memiliki tangan dengan seorang yang memiliki tangan, jika diberikan gelang, keduanya diberikan gelang, adilkah itu?
Apakah seorang bayi dengan seorang anak kecil bila diberikan makan, harus dengan makanan yang sama? Adilkah?

Sungguh, Adil bukanlah perkara tentang "SAMA" namun tentang "SESUAI".



Saturday, 5 November 2016

Inginku

Ingin rasanya melepaskan semua..
Namun apa mau di kata, Hidup ini harus tetap berjalan dengan segala keadaan..
Namun, apa dengan kenyataan hidup yang begitu pahit ini, Aku bisa bertahan? Tanpa mengakhiri kehidupanku?
Kenyataan ini begitu pahit.. Menusuk-nusuk sukma ku, hingga Aku-pun merasa tak kuat lagi bertahan.

Tak ada siapapun di kehidupanku untuk menuangkan segala perasaan ku..
Teman? Dia hanya membuat jiwa-ku makin menghilang.
Kekasih? Dia hanya membuat jiwa-ku makin resah.
Keluarga? Aku tak ingin membuat mereka khawatir.

Tuhan.. Kepada siapa lagi agar aku dapat bertahan di kehidupan ini?
Kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?..
Kepada Engkau kah Tuhan? Tapi, Aku ini hanya manusia biadab..
Setiap hari kehidupanku hanya terus berdosa, dan terus berdosa..

Apa Engkau mau mendengarku?..
Tuhan saja belum tentu mendengarku, apalagi manusia?
Lalu kepada siapa lagi aku harus berkata?
Mungkin memang benar, Aku harus mengakhiri kehidupanku.


Sejenak ku berpikir dengan hati tulus dan tenang, akan sebuah pikiran sesaat.
Ku dapatkan sesuatu setelah melihat sekeliling, masa lalu-ku dan masa-masa yang telah ku lalui..
Kutemukan sebuah hal penting.
Tak ada kepastian diri dalam kenyataan hidup.
Yang ada hanya kenyataan belaka, yang mungkin bisa berubah setiap saat..

Kenyataan itu memang terkadang pahit ataupun manis, namun itu hanya sebuah kenyataan belaka.
Aku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang berubah menjadi pahit.
Kembali ku berpikir, kenyataan hanyalah kenyataan, bukan sebuah takdir, tak mungkin bertahan lama.
Siapapun dapat melihat kenyataan hidup-ku, Aku ataupun mereka dapat melihatnya.

Tapi, akankah ada yang dapat melihat takdir-ku kelak? Masa-masa yang belum kulewati?
Kembali lagi ku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang pahit, mungkin saja bisa manis kembali

Inginku

Ingin rasanya melepaskan semua..
Namun apa mau di kata, Hidup ini harus tetap berjalan dengan segala keadaan..
Namun, apa dengan kenyataan hidup yang begitu pahit ini, Aku bisa bertahan? Tanpa mengakhiri kehidupanku?
Kenyataan ini begitu pahit.. Menusuk-nusuk sukma ku, hingga Aku-pun merasa tak kuat lagi bertahan.

Tak ada siapapun di kehidupanku untuk menuangkan segala perasaan ku..
Teman? Dia hanya membuat jiwa-ku makin menghilang.
Kekasih? Dia hanya membuat jiwa-ku makin resah.
Keluarga? Aku tak ingin membuat mereka khawatir.

Tuhan.. Kepada siapa lagi agar aku dapat bertahan di kehidupan ini?
Kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?..
Kepada Engkau kah Tuhan? Tapi, Aku ini hanya manusia biadab..
Setiap hari kehidupanku hanya terus berdosa, dan terus berdosa..

Apa Engkau mau mendengarku?..
Tuhan saja belum tentu mendengarku, apalagi manusia?
Lalu kepada siapa lagi aku harus berkata?
Mungkin memang benar, Aku harus mengakhiri kehidupanku.


Sejenak ku berpikir dengan hati tulus dan tenang, akan sebuah pikiran sesaat.
Ku dapatkan sesuatu setelah melihat sekeliling, masa lalu-ku dan masa-masa yang telah ku lalui..
Kutemukan sebuah hal penting.
Tak ada kepastian diri dalam kenyataan hidup.
Yang ada hanya kenyataan belaka, yang mungkin bisa berubah setiap saat..

Kenyataan itu memang terkadang pahit ataupun manis, namun itu hanya sebuah kenyataan belaka.
Aku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang berubah menjadi pahit.
Kembali ku berpikir, kenyataan hanyalah kenyataan, bukan sebuah takdir, tak mungkin bertahan lama.
Siapapun dapat melihat kenyataan hidup-ku, Aku ataupun mereka dapat melihatnya.

Tapi, akankah ada yang dapat melihat takdir-ku kelak? Masa-masa yang belum kulewati?
Kembali lagi ku berpikir, kenyataan hidup-ku dulu manis, sekarang pahit, mungkin saja bisa manis kembali

ShareBar by Tutorial Blogspot

Translate